User Image
User Image
Artikel | Mengenal Lebih Dekat Raden Ema Bratakusumah

Mengenal Lebih Dekat Raden Ema Bratakusumah

admin Selasa, 25 Oktober 2016
  • 08:09:06
  • 355

    Di jaman sekarang ini, kita bisa merasakan betapa mudahnya mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Perkembangan teknologi yang semakin pesat dan fasilitas yang serba ada menjadikan hidup kita ini menjadi lebih mudah. Tapi sebelumnya apakah kita pernah berpikir, bagaimana bangsa ini bisa menjadi bangsa yang besar yang kini dihormati dan disegani oleh bangsa-bangsa lainya. Dimana bangsa ini tidak berdiri dengan sendirinya, banyak sekali pergolakan dan pengorbanan yang terjadi pada masa lampau demi tercapainya cita-cita dan harapan negara ini bisa terbebas dari cengkraman penjajahan. Apa yang kita rasakan sekarang ini tidak terlepas dari perjuangan dan pengorbanan para saudara-saudara kita yang hidup di masa lampau.

    Mari sedikit kita mengingat kembali peristiwa Bandung lautan api, sebuah tragedi yang tergores di tanah Pasundan yang selamanya akan di ingat oleh para masyarakat sunda. Tak rela tempat yang kita tempati ini dikuasai oleh orang asing, banyak para pemuda sunda yang berjuang di balik tragedi Bandung lautan api. Salah satunya Raden Ema Bratakusumah adalah tokoh Sunda dan pejuang pergerakan nasional di Jawa Barat. Dalam perjuangan melawan tentara Jepang ia bersama rekanya Dr. Junjunan Setiakusumah, Anwar Sutan Pamuntjak, Duyeh Suharsa, dan Ukar Bratakusumah membentuk sebuah perkumpuulan para pemuda untuk berjuang mempertahankan kota Bandung. Setelah proklamasi kemerdekaan 1945. Beliau mendirikan Laskar Rakyat yang berfungsi untuk mengatur pengungsian pemerintahan dan masyarakat bandung pada peristiwa Bandung lautan api.

    Raden Ema Bratakusumah atau sering disebut Gan Ema, lahir di Ciamis pada 12 Agustus 1901. Anak pertama dari keluarga bangsawan Galuh, ayahnya bernama R. Moehamad Bratakoesoemah dan ibunya R. Koesoemaningroem. Awal karier pendidikanya dimulai di Tweede Klasse School (sekolah kelas dua) di Ciamis. Pada tahun 1913 ia melanjutkan pendidikanya ke Kweekschool (Sekolah raja) di Bandung. Gan Ema merupakan seorang pribadi yang mandiri dan mempunyai integritas yang tinggi, hidupnya ditujukan untuk perjuangan kemajuan kesundaan dan pergerakan nasional. Ia dikenal sebagai ahli pencak silat, politikus, penggerak budaya Sunda, pembina generasi muda dan pendiri surat kabar. Semasa hidupnya beliau banyak berkiprah di berbagai bidang salah satunya bidang jurnalistik.

    Diawali pada tahun 1918 ia menjadi redaktur surat kabar mingguan berbahasa Sunda. Disini pula ikut berkecimpung di dunia politik dan bergabung di perkumpulan Paguyuban Pasundan. Melalui media surat kabar sebagai jalan perjuangan beliau demi kemajuan sunda. Pada tahun 1921 bersama rekanya membuat surat kabar berbahasa sunda yaitu Paguyuban Siliwangi dan pada tahun 1956 bersama Sutisna Senjaya, Supyan Iskandar, dan Otong Kosasih, ia mendirikan surat kabar Kalawarta Kujang. Media ini didirikan demi menunjang perjuangan sunda dan Partai Gerakan Pilihan Sunda pada saat itu.

    Dalam dunia politik ia berguru kepada Dr. E.F.E. Douwes Dekker, bersama Darnasukumah, Bakri Suraatmaja, dan Gatot M angkupraja di Bandung. Pada tahun 1949-1950 ia mulai berkiprah di Dewan Perwakilan Rakyat Kota Bandung. Dalam pandangan politiknya , ia ingin memajukan bangsa Indonesia yang dimulai dari tingkat bawah berdasarkan kebudayaan (suku bangsa dan daerah Sunda. Meraih kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah mdengan persiapan rakyat harus berani bertarung secara individual atau kelompok. Bentuk negara yang sesuai bagi Indonesia merdeka adalah federasi atau otonomi yang luas, karena sesuai dengan kodrat masyarakat dan geografi Indonesia. Untuk mencapai pandangan tersebut ditempuhlah program pendidikan, pers, dan pencak.

    Di kalangan pencak silat Gan Ema bersama rekanya R. Tubagus Umay Martakusumah mendirikan perkumpulan seni budaya “Sekar Pakuan” pada tahun 1933. Ia terkenal dalam membawa maenpo dari Cianjur ke Bandung. Sejak usia 9 tahun ia sudah memelajar ilmu bela diri dari ayahnya yang memiliki perguruan Pencak silat di Ciamis. Pada tahun 1914 ia belajar penca kepada Bapa Enung, ahli penca aliran Cimandé di Dayeuhkolot. Di Jakarta ia belajar penca kepada Bang Janibi ahli aliran ameng pukulan dan kepada Bang Sabeni ahli aliran ameng Sabeni.

    Di samping itu didalami pula sampai tuntas beberapa aliran penca lainnya seperti ameng Cikalong, ameng Sabandar,ameng suliwa, dan ameng timbangan dari ahli-ahli penca di Jawa Barat. Di kalangan perguruan penca ia dikenal dengan sebutan Gan Ema (dari Juragan) dan kemudian dipandang sebagai tokoh bahkan sesepuh penca di Jawa Barat sampai akhir hayatnya. Pada tahun 1957 bersama- sama tokoh-tokoh penca lainnya mendirikan Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) dan ia menjadi penasihatnya.

    Oleh : Taufik Satriawan | Sumber pasoendan.com