User Image
User Image

Sejarah Singkat PB Paguyuban Pasundan


Paguyuban Pasundan pada tahun 2016 ini memasuki usia ke 103 tahun. Bagi sebuah organisasi, mampu bertahan selama 103 tahun itu sudah sepantasnya jadi kebanggaan. Pasundan bukan hanya tetap ada, tetapi semakin maju langkah-langkahnya dan semakin luas lahan garapannya.

Paguyuban Pasundan lahir oleh satu fakta historis bahwa pada masa itu belum ada organisasi yang secara khusus memikirkan kepentingan orang Sunda. Sekalipun sudah ada organisasi yang bertujuan meningkatkan martabat kaum pribumi, tetapi selalu ada saja kepentingan dasar orang Sunda yang tak tergarap baik oleh Boedi Oetomo, Sarekat Islam maupun organisasi lainnya. Oleh sebab itulah Mas Dajat Hidajat dan kawan-kawan, gabungan anak-anak muda Sunda dari STOVIA dan sekolah-sekolah sakola kelas menengah lainnya, merasa perlu untuk mendirikan satu paguyuban yang diberi nama Pasundan.

Paguyuban ini memiliki tujuan yang selaras dengan semangat zamannya, sebagaimana yang tercantum dalam Statuta Pasundan tahun 1914: “Memajukan orang Sunda agar bertambah keselamatannya; yaitu dengan mengikuti cara pemerintah dalam memajukan pengetahuan dan kehidupan masyarakat dan memperbaiki tingkah lakunya melalui pendidikan, memperhalus pikirannya agar bertambah kemauannya bekerja yang akhirnya akan membuat mereka bertambah senang kehidupannya. Dalam upaya tersebut, paguyuban tidak akan memasuki urusan agama dan menjauhi hal-hal yang melanggar aturan negara.” .

Kalau menelisik bunyi statuta ini, tidak tercantum larangan untuk terlibat dalam bidang politik, suatu garapan yang pada waktu itu memang belum lazim. Pemerintah Hindia Belanda masih melarang setiap kegiatan politik kaum pribumi. Statuta Pasundan saat itu tidak membatasi langkahnya dengan kalimat, “tidak akan terlibat dalam urusan politik” tetapi menggunakan kalimat, “menjauhi hal-hal yang melanggar aturan negara”. .

Setelah Perang Dunia Pertama yang membangkitkan pentingnya keberadaan pertahanan negara, Pasundan selalu mengikuti pertemuan-pertemuan yang membahas Indie Weerbaar (Pertahanan Hindia) atau milisi. Ini menandakan bahwa keberadaan Pasundan diakui oleh organisasi yang lain. Dengan menyebarnya semangat ini, ditambah makin besarnya Sarekat Islam, maka mulai tahun 1918, pemerintah Hindia Belanda akhirnya memperbolehkan kegiatan politik kaum pribumi, yang berpuncak pada dibukanya Dewan Rakyat (Volksraad). .

Pasundan tak ketinggalan langkah, melalui Kongres tahun 1919, tujuan Pasundan diselaraskan dengan kelonggaran dari pemerintah itu. Pasal Dua Statuta Pasundan dirubah menjadi: “Tujuan paguyuban ini ialah hendak memajukan orang Sunda, agar bertambah keselamatannya; yaitu dengan ikhtiar memajukan pengetahuan dan kehidupan masyarakat serta memperbaiki tingkah lakunya melalui pangajaran di rumah dan di sekolah, selain itu hendak memperhalus cara berpikirnya, agar bertambah kekuatannya yang akhirnya bertambah senang kehidupannya.” .

Pengurus Pasundan saat itu sepakat, kalimat “hendak memajukan orang Sunda” sudah memadai untuk mewadahi langkah-langkah politik organisasi. Buktinya, tiga tahun setelah perubahan statuta, Pasundan memiliki wakil dalam Volksraad, yaitu R. Kosasih Soerakoesoemah, guru sekolah pertanian yang sering menulis untuk majalah Papaes Nonoman dan menjadi pengurus Pasundan Cabang Bandung. Sejak saat itu Pasundan terus menerus memiliki wakil dalam Volksraad sampai tahun 1942.

Selanjutnya, Paguyuban Pasundan didaftarkan ke Pemerintah Kolonial Belanda tanggal 22 September 1914 dan mendapatkan status badan hukum nomor 46 tanggal 9 Desember 1914 dimuat dalam Javasche Courant tanggal 8 Januari 1915 berdasarkan pada Koninklijk Besluit No. 2-1870-Stb jis No. 24-1898, Stb No. 432 tanggal 14 Mei 1913 dan Stb.1933 No. 89 tanggal 25 Februari 1933 tentang tambahannya. Terakhir Paguyuban Pasundan didaftarkan di Pengadilan Negeri Bandung pada hari Senin, tanggal 5 Oktober 1992 No. 34 dan didaftarkan dalam Tambahan Berita Negara RI tanggal 30 Oktober 1992 No. 87 melalui Kaputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. C2-7128 HT.01.03-Th.92, Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. C-39.HT.01.06.Th.2006 tanggal 23 Agustus 2006 mengenai Perobahan Anggaran Dasar Perkumpulan Paguyuban Pasundan, NPWP 02.481.064.0-423.000.

Sesuai dengan tujuannya, Paguyuban Pasundan mendirikan Bale Pamulangan untuk mengelola sekolah-sekolah; Bale Ekonomi yang mengelola bank-bank dan koperasi; Centrale Advies Bureau untuk membantu rakyat dalam bidang hukum; Reclasseerings Vereeniging untuk mengurus dan memperbaiki nasib orang yang dibebaskan dari penjara dan Raksaperlaya yang merupakan badan amal kematian.

Mulai tahun 1919, Paguyuban Pasundan ikut ambil bagian dalam gelanggang politik. Langkah ini disetujui oleh pemerintah jajahan. Kiprah Paguyuban Pasundan dalam bidang politik semakin meningkat tatkala mulai tahun 1931 sampai dengan 1942 Ketua Paguyuban Pasundan, R Oto Iskandar di Nata menjadi anggota Volksraad. Di Volksraad, R Otto Iskandar Dinata menunjukkan kiprah dan keberaniannya membongkar kejelekan–kejelekan pemerintah kolonial Belanda dan dengan tegas selalu mengungkapkan cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka. Selain R Oto Iskandar di Nata, banyak pula pengurus dan anggota Paguyuban Pasundan di daerah yang menjadi anggota Dewan Kota di daerah Jawa Barat.

Di bidang pers, Paguyuban Pasundan menerbitkan Papaes Nonoman tahun 1914-1919, Pasoendan tahun 1919, Sipatahoenan tebit mulai 20 April 1923, Somah Moerba tahun 1926, Lalayang Domas tahun 1927, dan Sepakat (berbahasa Melayu ) tahun 1941.

Pada zaman pendudukan Jepang, sama halnya dengan organisasi perjuangan lainnya, Paguyuban Pasundan dibekukan. Walaupun demikian, secara orang perorangan anggotanya tetap aktif. Tahun 1949, Paguyuban Pasundan berganti nama menjadi Partai Kebangsaan Indonesia (PARKI). Maksudnya untuk lebih memperkokoh perjuangan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. PARKI ikut aktif dalam membubarkan Negara Pasundan bentukan pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun 1959, PARKI melalui referendum kembali lagi menjadi Paguyuban Pasundan sampai sekarang.

Ketua Paguyuban Pasundan periode 1921-1924 R. Poeradiredja menegaskan bahwa Pasundan itu merasa dan mengaku jadi bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia itu sesungguhnya sudah ada sejak lama, sekalipun tak diakui oleh bangsa asing. Bangsa Indonesia itu ada, berdiri dalam rasa, disambungkan oleh darah, dibentuk oleh sifat-sifat, dibimbing oleh agama dan adat istiadat, diikat oleh babad, dijalin oleh rasa saling memiliki, untuk jadi satu ikatan kuat. Bahkan bahasa persatuannya pun sudah ada.

Kekuatan dan kesentosaan bangsa Indonesia itu, menurut kayakinan Pasundan, harus berdiri dalam kekuatan dan kesentosaan golongan-golongan bangsa yang ikut membangun bangsa Indonesia ini; yaitu dalam kekuatan serta kesentosaan orang Sunda, orang Jawa, orang Madura, orang Aceh, orang Minangkabau, orang Makassar … dan bangsa-bangsa lainnya di wilayah Nusantara. Ibarat sebuah Mesjid Agung, berdirinya itu di atas kekuatan tiang-tiang pilarnya.

Oleh sebab itulah Pasundan memberi mandat kepada dirinya sendiri: mengelola serta mengolah orang Sunda, agar keluar inti kekuatannya sehingga kokoh untuk menjadi pilar keagungan bangsa Indonesia. Jadi, Paguyuban Pasundan itu, sebelum tercapai maksudnya, yakni menjujung martabat orang Sunda, sebelum orang Sunda naik martabatnya, maka Paguyuban ini masih diperlukan keberadaannya. Perlu tetap ada untuk orang Sunda, perlu tetap ada untuk bangsa Indonesia.

Untuk menguatkan maksud tersebut, pada tahun 1932, dalam rangka ikut berperan lebih aktif dalam menyongsong kemerdekaan Indonesia, Pasundan menyelaraskan kembali tujuannya. Pasal dua dalam Statuta dirubah menjadi: “Maksud paguyuban ini adalah hendak menjunjung martabat orang Indonesia, khususnya orang Sunda, agar menjadi satu bangsa yang dihargai sewajarnya oleh bangsa lain”.

Sampai saat ini masih ada saja yang mempertanyakan, bagaimana kaitannya Pasundan dengan leluhur Sunda. Pujangga Sunda R. Soeriadiradja, penulis wawacan Purnama Alam, yang ikut mendorong dan mengurus organisasi Pasundan pada masa-masa awal, menjelaskan seperti ini:

“Leluhur itu yang mempersiapkan, leluhur itu yang membuka lahan, leluhur itu yang merintis, leluhur itu yang menyebarkan bijinya, lalu disambung oleh Pasundan yang melanjutkan, dikelola oleh Pasundan yang jadi pengikatnya, diolah oleh Pasundan yang mampu menyelaraskannya (dengan perobahan zaman), digarap oleh Pasundan yang terampil menghiasnya, sehingga lahan leluhur itu bisa jadi bekal untuk kemulyaan bangsa dan tanah tempat kelahirannya. Mengikuti arus zaman, saat harus tampil di lapangan politik, Pasundan sudah punya pendirian!. Dalam berpolitik kita (orang Sunda) bersatu. Raga Sunda itu tercermin dalam kebudayaannnya yang akan kita petik buahnya kelak kemudian hari.”

Jadi, bagi siapa saja yang saat ini terikat dengan Pasundan, baik yang menjadi pengurus, yang ikut mengelola unit dan lembaga Pasundan, anak-anak muda yang saat ini menimba ilmu dari sekolah dan kampus Pasundan, begitu juga semua yang merasa terikat secara historis oleh Pasundan, janganlah bimbang dan ragu, Pasundan adalah ahli waris yang sah dalam mengelola Tatar Sunda. Perjalanan 103 tahun Pasundan menjadi bukti bahwa organisasi ini tetap berada dalam jalurnya: meneruskan, mengelola, dan menggarap semua yang sudah dipersiapkan dan dirintis oleh leluhur Sunda.

Dalam upaya itu, tentu saja Pasundan tidak akan bisa bekerja sendiri, tetapi harus bekerja sama dengan organisasi Sunda yang lain, yang memiliki tujuan yang mirip atau mendekati tujuan Pasundan, berbagi tugas sesuai keahlian dan fokus garapan masing-masing.

Kemerdekaan Indonesia yang saat ini dirasakan buahnya, juga diperjuangkan dan dipertahankan oleh pahlawan-pahlawan Sunda. Sepanjang 103 tahun, Pasundan ikut membangun nasionalisme Indonesia, turut mempersiapkan konsep negara, terlibat dan menjadi korban dalam revolusi kemerdekaan, serta telah mewakafkan putera-puteri terbaiknya untuk kepentingan membangun negara Indonesia. Tugas utama itu tetap digarap hingga saat ini, sesuai dengan perubahan sosial-politik-ekonomi Indonesia.

Satu tujuan yang tidak akan bergeser, yaitu menjunjung martabat orang Sunda. Maka sebelum orang Sunda naik martabanya, itu artinya tujuan utama Paguyuban Pasundan belum tercapai.

Sejak berdirinya tahun 1913 sampai dengan sekarang tahun 2016, Paguyuban Pasundan telah menyebar ke seluruh wilayah Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Hampir di setiap kabupaten/kota dan kecamatan telah berdiri cabang dan juga anak cabang Paguyuban Pasundan. Tercatat di Provinsi Jawa Barat ada 27 cabang, DKI Jakarta 5 cabang, Banten 8 cabang, Jawa Tengah 1 cabang, Jawa Timur 7 cabang, dan 559 anak cabang dengan jumlah anggota sebanyak 25000 orang.

Selain di wilayah tersebut di atas, Paguyuban Pasundan juga telah menyebar ke Provinsi Sumatera Barat, Palembang, Lampung, Batam, Kepulauan Riau, Bali, Bengkulu bahkan sampai ke luar negeri yaitu, Australia, Malaysia, Jepang, dan Amerika Serikat.

Dalam hal struktur kepengurusan, Pimpinan Pusat Paguyuban Pasundan disebut Pengurus Besar dan sampai tahun 1929 bertempat di Batavia. Pimpinan tertinggi disebut ketua. Taun 1978 sebutan ketua diganti menjadi Ketua Umum sampai dengan sekarang tahun 2016. Pada usianya yang sudah 102 taun ini, Paguyuban Pasundan sudah 19 kali ganti Ketua/Ketua Umum. Prof. H.M. Didi Turmudzi, M.Si. merupakan Ketua Umum yang ke-19 masa bakti tahun 2015-2020. Saat ini, kantor pusat

Pengurus Besar Paguyuban Pasundan bertempat di Jl. Sumatera No. 41 Bandung.

Berikut Ketua/Ketua Umum Paguyuban Pasundan dari sejak berdiri tahun 1913 sampai dengan sekarang tahun 2016.

  • Mas Dajat Hidajat (Ketua Sementara) (1913 –1914)
  • Daeng Kanduruan Ardiwinata (1914 –1916)
  • R. Wirasapoetra (1916-1918)
  • R. Koesoema Soedjana (1918-1920)
  • R. Karmoes Atmadinata (1920-1921)
  • R. Poeradiredja (1921 – 1924)
  • R. Oto Koesoema Soebrata (1924 –1929)
  • R. Oto Iskandar di Nata (1929 – 1942)
  • R.S. Soeradiradja (1948 –1969)
  • R. Hasan Wargakusumah (1969 – 1970)
  • R. Mahdar Prawiradilaga (1970 – 1978)
  • R.K.S. Bratamanggala (1978 - 1983)
  • R. Adjam Sjamsupradja (1983 – 1985)
  • R. K.S. Braamanggala (1983 – 1985)
  • Prof. Dr. Ir. H. Toyib Hadiwijaya (1985 – 1990)
  • R. H. Daeng Ardiwinata (1990 – 1995)
  • H. Aboeng Koesman (1995 – 2000)
  • Drs. H. Ateng Sopala (2000)
  • H.A. Syafe’i (2000 – 2010)
  • Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si. (2010 -2015)
  • Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si. (2015-2020)

Dalam melaksanakan kiprahnya untuk ikut mengangat derajat dan martabat orang Sunda, Paguyuban Pasundan berupaya untuk senantiasa menjaga jatidiri dan kemampuan mengembangkan diri dalam kerangka nasional dan global. Hal tersebut sesuai dengan Visi dan Misi Paguyuban Pasundan yang tercantum dalam AD ART hasil Kongres Paguyuban Pasundan ke-42 tahun 2016 yaitu:

Visi : Mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki harkat dan martabat pada tahun 2040.

Misi : (1) Memerangi kebodohan dan kemiskinan (2) Mengembangkan budaya Sunda dan agama Islam

Untuk mewujudkan visi dan misinya, Paguyuban Pasundan mendirikan badan garapan dan juga badan usaha lainnya, yaitu:

  • Yayasan Pendidikan Tinggi (YPT) Pasundan, mengelola bidang pendidikan tinggi yaitu Universitas Pasundan, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pasundan, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STH) Pasundan, dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pasundan.
  • Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah (YPDM) Pasundan, mengelola bidang pendidikan dasar dan menengah mulai dari TK, SD, SMP, SMA/SMK yang tersebar di Provinsi Jawa Barat dan Banten. Saat ini YPDM Pasundan mengelola:
    • PAUD = 1 unit
    • TK = 1 unit
    • SD = 4 unit
    • SMPLB = 1 unit
    • MTs. = 1 unit
    • SMP = 42 unit
    • SMA = 24 unit
    • SMK = 37 unit
  • Koperasi Paguyuban Pasundan, bergerak pada bidang simpan pinjam dan konsumsi.
  • Lembaga Baitul Maal Paguyuban Pasundan
  • PT Pasundan Citra Tour & Travel, bergerak dalam bidang Haji dan Umroh.
  • BMT Citra Pasundan, bergerak dalam bidang simpan pinjam.
  • Poliklinik Pasundan
  • Biro Hukum Paguyuban Pasundan
  • Tabloid Sora Pasundan
  • Korps Mubalig Pasundan

Saat ini, Paguyuban Pasundan dipimpin oleh Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si. sebagai Ketua Umum dan Dr. H. Dedi Hadian, M.M. sebagai Sekretaris Jenderal hasil Keputusan Kongres Paguyuban Pasundan ke-42 tahun 2015 di Pangandaran.